Diubah oleh Kasih Karunia
Read Time: 2 min

Justus von Liebig, seorang ahli kimia asal Jerman, menemukan cermin berlapis perak pertama pada tahun 1835. Sejak saat itu, manusia dapat melihat diri mereka sendiri dengan lebih jelas. Cermin pada umumnya menghasilkan bayangan yang terbalik dan datar, sehingga memberikan kesan yang agak terdistorsi. Namun, bentuk pantulan baru yang disebut True Mirror—yang dibuat dengan menyatukan dua cermin pada sudut 90 derajat—memberikan gambaran tiga dimensi tentang diri seseorang sebagaimana mereka terlihat oleh orang lain. Beberapa orang merasa terintimidasi saat mengetahui begitu banyak detail tentang penampilan mereka, sementara yang lain menganggapnya menghibur.
Cermin memainkan peran penting dalam budaya kita, tetapi cermin paling berguna di alam semesta adalah cermin rohani yang memusatkan pandangan kita pada Yesus dan mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya melalui kuasa Roh-Nya. Ia mengundang kita untuk “diubah oleh pembaruan pikiranmu” (Roma 12:2). Hal ini hanya mungkin melalui Perjanjian Baru.
Tahukah Anda bahwa Allah menetapkan perjanjian untuk menyelamatkan kita bahkan sebelum kita diciptakan? (Lihat 1 Korintus 2:7; 2 Timotius 1:9; dan Titus 1:2.) Pada saat itu, Tritunggal Allah sepakat bahwa Yesus akan turun tangan dan menanggung hukuman kita, sehingga kita dapat dengan bebas menerima pengampunan dan hidup kekal. Setelah manusia jatuh, rencana ini diungkapkan kepada Adam dan Hawa, namun sayangnya, umat pilihan Allah akhirnya memutarbalikkan Perjanjian Anugerah menjadi perjanjian perbuatan yang menyedihkan dan sia-sia.
Perjanjian Baru, yang kadang-kadang disebut sebagai “perjanjian yang lebih baik,” sebenarnya adalah perjanjian asli Allah yang sempurna tanpa distorsi yang ditambahkan oleh manusia. Yesus telah mengukuhkan perjanjian kasih karunia ini melalui kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan pengantaraan-Nya bagi kita. “Yesus telah menjadi penjamin perjanjian yang lebih baik” (Ibrani 7:22).
Melalui Perjanjian Baru, kita dapat memilih untuk diampuni dan diadopsi. “Lihatlah, betapa besar kasih yang telah dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah!” (1 Yohanes 3:1). Dan setelah menerima kasih karunia-Nya, kita dapat memiliki kehidupan baru yang penuh kemenangan dengan tetap memusatkan pandangan kita pada gambaran Kristus yang mengubah hidup.
Terapkan:
Lihatlah diri Anda di cermin dan ingatkan diri Anda dengan suara keras bahwa Anda adalah anak Allah.
Pelajari Lebih Dalam:
1 Petrus 1:20, 21; Lukas 22:20; Ibrani 8:6–13