Hidup Dimulai dengan Kematian
Read Time: 2 min

Sebuah tim ilmuwan Rusia secara tak sengaja menemukan sekumpulan biji yang disembunyikan oleh tupai. Yang menakjubkan adalah biji-biji tersebut telah dikubur oleh tupai ribuan tahun yang lalu di dekat tepi Sungai Kolyma di Siberia. Biji-biji tersebut terperangkap dalam es pada kedalaman 124 kaki di bawah lapisan permafrost dan dikelilingi oleh lapisan tulang mammoth, bison, dan badak berbulu.
Yang lebih menakjubkan lagi dari benih-benih purba ini adalah tim Rusia berhasil mengambil bahan tanaman yang masih hidup dari benih-benih tersebut, menempatkannya dalam tabung, dan berhasil menumbuhkan tanaman. Tanaman-tanaman tersebut identik dengan S. stenophylla modern—kecuali bentuk bunganya sedikit berbeda. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan baik, berbunga, dan kemudian, setelah setahun, menghasilkan benihnya sendiri.
Bagi banyak orang, gagasan bahwa hidup dimulai dari kematian terdengar aneh, tetapi ini adalah kebenaran yang menghibur bagi orang Kristen. Kita tahu dengan baik bahwa “upah dosa adalah kematian” (Roma 6:23). Namun, bagaimana hidup bisa muncul dari kematian? Kristus menggambarkan hal ini melalui sebuah biji. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, kecuali sebutir gandum jatuh ke tanah dan mati, ia tetap sendirian; tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak gandum” (Yohanes 12:24).
Rasul Paulus menjelaskan bahwa “sama seperti melalui satu orang dosa masuk ke dalam dunia, dan kematian melalui dosa,” demikian pula “melalui perbuatan benar satu Orang, anugerah itu datang kepada semua orang” (Roma 5:12, 18). Perbuatan benar itu adalah kematian Kristus di Kalvari, dan anugerah itu adalah hidup kekal (Roma 6:23).
Namun, ada kematian lain yang harus terjadi untuk menerima anugerah ini—kematian terhadap diri sendiri. Paulus berkata kepada kita, “Aku telah disalibkan bersama Kristus; bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidup yang kini aku jalani di dalam daging ini, aku jalani oleh iman kepada Anak Allah, yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Hal ini memberikan makna baru pada gagasan bahwa kita mati untuk hidup!
Terapkanlah:
Tanamlah benih minggu ini dan ingatlah bahwa melalui kematianlah kita dapat hidup.
Pelajari Lebih Dalam:
Ulangan 30:19; Yohanes 5:24; Roma 5:10