Rahasia Tempat Suci
Oleh Steven Winn, David Boatwright, dan Doug Batchelor
Fakta Menakjubkan: Memori eidetik (memori fotografis) sangat langka pada manusia dan menjadi sumber kekaguman serta penghargaan. Memori eidetik, yang juga disebut memori fotografis, ditandai dengan kemampuan mengingat kembali gambar visual secara sangat detail dan jelas, disertai kemampuan untuk memproyeksikan ulang dan dengan demikian mengingat kembali materi secara “visual”. Seorang pria yang memiliki karunia ini, Mehmed Ali Halici dari Ankara, Turki, melafalkan 6.666 ayat Al-Quran dari ingatannya dalam waktu enam jam tanpa kesalahan. Enam ulama Al-Quran memantau pelafalan tersebut.
Para ahli telah membuktikan bahwa salah satu metode hafalan yang paling efektif adalah melalui asosiasi gambar. Tuhan menggunakan teknik pengajaran ini karena Dia tahu bahwa manusia adalah makhluk yang sangat visual. Inilah salah satu alasan utama Yesus mengajar dengan perumpamaan. Cerita bergambar membantu orang memahami dan mengingat prinsip-prinsip abstrak keselamatan dengan mengaitkannya pada gambar visual.
Allah pertama kali menggambarkan rencana keselamatan segera setelah Adam dan Hawa berdosa dengan menyuruh mereka mempersembahkan seekor domba. Proses ini menanamkan pada pasangan pertama itu akibat keji dari dosa dan menandakan kematian akhir “Domba Allah” untuk dosa-dosa mereka.
Ketika anak-anak Israel telah menghabiskan 400 tahun di Mesir sebagai budak bangsa pagan, Tuhan melihat bahwa umat-Nya membutuhkan pendidikan ulang yang menyeluruh mengenai “gambaran besar” rencana penebusan—termasuk peran mereka dan peran Allah dalam membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka dan memulihkan mereka ke dalam gambar-Nya.
Inilah sebabnya, ketika bangsa Israel akhirnya keluar dari Mesir dengan luka di punggung mereka dan bayangan Tanah Terjanji yang menari-nari di benak mereka, Allah tidak langsung memimpin mereka ke utara menuju Tanah Terjanji, melainkan ke selatan menuju Gunung Sinai. Ia akan memberikan kepada bangsa yang masih muda ini salah satu pelajaran objek yang paling kuat dan abadi yang pernah tercatat. Dan Ia akan melakukannya hampir sepenuhnya dengan simbol-simbol.
Tuhan berfirman kepada Musa, “Biarlah mereka membuat tempat suci bagi-Ku; supaya Aku dapat tinggal di tengah-tengah mereka” (Keluaran 25:8). Ingatlah bahwa Kemah Suci duniawi ini tidak pernah dimaksudkan sebagai bangunan untuk melindungi Allah dari cuaca. Yehova bukanlah Allah yang tidak memiliki tempat tinggal. Ketika Salomo membangun Bait Suci pertama di Yerusalem, ia berkata: “Tetapi apakah Allah benar-benar akan tinggal di bumi? Lihatlah, langit dan langit di atas langit pun tidak dapat menampung-Mu; apalagi rumah ini yang telah kubangun?” (1 Raja-raja 8:27).
Inilah kunci untuk memecahkan teka-teki bait suci. Struktur dan upacara-upacara tersebut dimaksudkan sebagai simbol untuk menggambarkan urutan dan proses keselamatan.
Saat kita mempertimbangkan bait suci dan simbol-simbolnya, contoh terbaik adalah dari bait suci pertama—yang dibangun oleh Musa bersama umat di padang gurun. Kemah portabel ini sering disebut “tabernakel.” Musa tidak sekadar membayangkan bagaimana struktur ini seharusnya terlihat. Sama seperti Allah menetapkan dimensi yang tepat untuk Bahtera Nuh, Allah memberikan rencana yang tepat kepada Musa untuk segala sesuatu di dalam bait suci, hingga detail terkecil dari perlengkapannya.
Rencana Allah juga tidak sembarangan. Ia sudah memiliki tempat tinggal yang nyata di surga di mana rencana keselamatan pertama kali dirancang. Bait Suci di bumi dimaksudkan sebagai model miniatur, atau bayangan, dari yang di surga. Allah berkata kepada Musa, “Sesuai dengan segala yang Aku tunjukkan kepadamu, menurut pola Kemah Suci [di surga], dan pola semua peralatannya, demikianlah kamu harus membuatnya” (Keluaran 25:9). Tidak seperti bangunan lain yang pernah dibangun, bait suci akan menjadi buku pelajaran tiga dimensi dengan ukuran aslinya. Setiap komponen, mulai dari tirai terbesar hingga perabot terkecil, memiliki makna simbolis yang membantu bangsa Israel melihat, mengalami, dan memahami rencana keselamatan serta peran bait suci surgawi dengan cara yang sangat praktis.
Perjalanan Menuju Allah
Mari kita mulai tur singkat melalui struktur yang tidak biasa ini dan pelajari beberapa pelajaran dasar sebelum menelaah makna yang lebih dalam dari sistem bait suci.
Bait Suci terdiri dari tiga area utama: halaman, tempat kudus, dan tempat yang paling kudus. Ketiga lokasi ini mewakili tiga langkah utama dalam proses keselamatan yang dikenal sebagai pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan, dan sesuai dengan tiga fase pelayanan Kristus: korban pengganti, perantaraan imamat, dan penghakiman akhir.
Tempat yang Paling Kudus, titik paling suci di Kemah Suci, melambangkan kehadiran Allah. Dinding-dinding di sekitar halaman dan tempat kudus secara gamblang menggambarkan pemisahan manusia dari Allah. “Tetapi dosa-dosamu telah memisahkan kamu dari Allahmu, dan kesalahanmu telah menyembunyikan wajah-Nya dari kamu, sehingga Ia tidak mau mendengarkan” (Yesaya 59:2). Semua pelayanan di tempat kudus melambangkan perjalanan seorang pendosa kembali kepada Allah. Dalam tiga bab pertama Alkitab, dosa masuk ke dunia dan manusia diusir dari Taman Eden. Dalam tiga bab terakhir, dosa dihilangkan dan manusia dipulihkan ke Taman Eden serta persekutuan dengan Allah.
Harap diingat saat kita memasuki tanah suci ini bahwa kita hanya mengumpulkan beberapa mutiara kebenaran. Banyak buku dapat ditulis tentang bait suci dan simbol-simbolnya tanpa menghabiskan topik ini.
Pintu
Hal pertama yang kita perhatikan saat mendekati tempat suci adalah bahwa hanya ada satu pintu. Bahkan tidak ada pintu darurat! Ingatlah kata-kata Yesus: “Akulah pintu: barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan” (Yohanes 10:9).
Semua yang diselamatkan ditebus oleh Yesus saja. “Tidak ada keselamatan di dalam nama lain, sebab tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita harus diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12). Satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Kristus, satu-satunya pintu.
Halaman
Seluruh bangunan tempat suci dikelilingi oleh sebuah halaman yang terbuat dari tirai linen yang dipasang dengan orientasi yang sangat spesifik. Panjangnya dua kali lipat lebarnya (150 kaki panjang dan 75 kaki lebar), dan harus dipasang dengan satu pintu menghadap ke timur. Penataan tersebut memastikan bahwa para penyembah dan imam yang berdiri di pintu membelakangi matahari terbit, bukan menghadapinya seperti agama-agama penyembah matahari pagan pada masa itu. Umat Allah menyembah Sang Pencipta, bukan ciptaan-Nya.
Altar Korban Bakaran
Segera setelah memasuki pintu halaman, terdapat mezbah tembaga untuk korban bakaran. Altar tersebut sebenarnya terbuat dari kayu akasia dan dilapisi tembaga. Beberapa orang mengibaratkan bagian kayu sebagai karya manusia dan tembaga sebagai karya Kristus. Tanpa lapisan tembaga, rangka kayu akan terbakar habis oleh api saat pembakaran persembahan, sama seperti kita akan terbakar di danau api jika kita tidak percaya bahwa kasih karunia Yesus harus melampaui perbuatan baik kita.
Tempat Cuci
Di antara mezbah korban bakaran dan Kemah Suci itu sendiri berdiri bak pembasuhan. Bak itu juga terbuat dari tembaga dan diisi dengan air untuk membersihkan para imam.
Gambaran pembenaran orang berdosa menjadi jelas di pelataran. Sebelum Allah memberikan Hukum-Nya kepada orang Israel di atas lempengan batu, Ia menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir berkat iman mereka kepada Anak Domba Paskah (disimbolkan oleh mezbah) dan membaptis mereka di laut (diwakili oleh bak pembasuhan). Allah menerima kita apa adanya dan mengampuni dosa-dosa kita. Ketika kita menerima Kristus, mengaku dosa, dan memohon pengampunan, catatan dosa kita di surga ditutupi oleh darah Yesus.
Tempat Kudus
Kemah Suci yang sebenarnya berdiri di bagian barat halaman. Kemah itu terbagi menjadi dua ruangan. Meskipun lebar kedua ruangan sama, panjang ruangan pertama, yaitu tempat kudus, dua kali lipat panjang tempat yang paling kudus. Dinding struktur pusat terbuat dari papan akasia yang dilapisi emas dan dihubungkan dengan perangkat perak (Keluaran 26).
Semua orang yang masuk ke tempat kudus untuk melayani melihat bayangan diri mereka terpantul di dinding-dinding emas di setiap sisi, mengingatkan mereka bahwa mata Tuhan melihat segalanya. “Dan ia membuat penutup untuk Kemah Suci dari kulit domba jantan yang dicelup merah, dan penutup dari kulit badger di atasnya” (Keluaran 36:19). Para imam dapat menengadah dan melihat bahwa mereka melayani di bawah kulit merah. Demikian pula, orang Kristen adalah bangsa imam yang melayani Yesus di bawah Darah-Nya.
Tempat kudus memiliki tiga perabot. Kita akan meninjau satu per satu.
Lampu Emas
Di sebelah kiri (selatan) tempat kudus, berdiri menorah emas yang memiliki tujuh cabang lilin (lihat Keluaran 25:31-40). Itu bukan lilin lilin seperti yang kita kenal, melainkan lampu yang dibakar dengan minyak zaitun murni. Para imam memotong sumbu setiap hari dan mengisi mangkuk-mangkuk dengan minyak agar menorah selalu menjadi sumber cahaya bagi tempat kudus. Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12).
Dia juga berkata, “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Minyak zaitun dalam lampu-lampu itu melambangkan Roh Kudus yang menerangi gereja. Lampu juga merupakan lambang Firman (Mazmur 119:105).
Meja Roti Sajian
Di sebelah lampu, di sisi utara, terdapat meja roti sajian. Meja itu terbuat dari kayu akasia dan dilapisi emas (Keluaran 25:23-30). Di atasnya disimpan 12 roti tak beragi (Imamat 24:5-9). Roti-roti ini melambangkan Yesus, yang adalah roti hidup (Yohanes 6:35). Angka 12 melambangkan 12 suku Israel dan 12 rasul Yesus yang bertugas memberi makan umat Allah dengan roti hidup—yang juga merupakan simbol Alkitab (Matius 4:4).
Meja Dupa
Meja dupa terletak tepat di seberang pintu, berhadapan dengan tirai yang dihiasi yang memisahkan tempat kudus dari tempat yang paling kudus. Seperti beberapa benda lain di dalam bait suci, meja ini juga terbuat dari kayu akasia dan dilapisi emas (Keluaran 30:1-3). Ukurannya jauh lebih kecil daripada meja di halaman dan berisi sebuah wadah tembaga yang berisi arang panas dari meja tembaga persembahan bakaran. Di sinilah imam membakar campuran dupa yang sangat istimewa, yang mengisi tempat kudus dengan awan beraroma harum, melambangkan doa-doa perantaraan dan pengakuan dosa orang-orang percaya yang dimaniskan oleh Roh Kudus (Keluaran 30:8).
Tempat Kudus melambangkan proses pengudusan. Hal ini sesuai dengan pengembaraan Israel di padang gurun. Tiang api adalah menorah mereka, dan manna adalah roti sajian mereka. Tiang awan adalah awan dupa mereka.
Pengudusan adalah proses dalam kehidupan seorang Kristen untuk belajar taat. Proses ini terdiri dari serangkaian pembenaran. Setiap kali kita berdosa, kita memohon pengampunan, dan kita dibenarkan kembali. Namun, Allah menawarkan lebih dari sekadar pengampunan ketika kita mengaku dosa. Dalam 1 Yohanes 1:9, Ia berjanji kepada kita bahwa, “Jika kita mengaku dosa-dosa kita, Ia setia dan adil untuk mengampuni kita dari segala dosa kita, dan membersihkan kita dari segala kejahatan.”
“Pembersihan dari ketidakbenaran” itulah yang merupakan pengudusan. Unsur-unsur utama dalam pengudusan kita adalah kehidupan devosional dalam Firman, doa, dan kesaksian. Roti, dupa, dan lampu di tempat kudus melambangkan unsur-unsur ini.
Ruang Mahakudus
Panjang tempat mahakudus sama dengan lebarnya sehingga membentuk persegi. Tingginya juga sama dengan lebar dan panjangnya, menjadikannya kubus yang sempurna—persis seperti Yerusalem Baru nantinya (lihat Wahyu 21:16). Ruangan itu hanya berisi satu perabot.
Tirai
Tirai ini, atau tirai pemisah, yang memisahkan tempat kudus dan tempat yang paling kudus di Bait Suci memiliki makna yang besar, karena tirai inilah yang robek pada saat Yesus wafat di kayu salib (Matius 27:51; Markus 15:38; Lukas 23:45). Kematian-Nya melambangkan berakhirnya kebutuhan akan imamat Lewi yang eksklusif untuk menjadi perantara antara manusia dan Allah.
Tirai ini melambangkan tubuh Yesus (Ibrani 10:19, 20). Hanya dengan melewati tirai inilah akses ke tempat yang paling kudus menjadi mungkin (Ibrani 4:16). Terkoyaknya tirai melambangkan kematian Anak Domba Allah, yang kini memungkinkan orang percaya pada penebusan-Nya untuk langsung masuk ke tempat maha kudus melalui Imam Besar yang baru—Yesus Kristus—satu-satunya Perantara antara manusia dan Allah.
Tabut Perjanjian
Di dalam tempat yang paling kudus, atau “tempat yang paling kudus,” terdapat satu perabot—tabut perjanjian. Kotak suci ini, yang juga terbuat dari kayu akasia dan dilapisi emas, berisi lempengan batu di mana Allah telah menulis Sepuluh Perintah Allah. Kemudian, tabut ini juga berisi tongkat Harun yang telah bertunas dan sebuah wadah kecil berisi manna.
Penutup tabut itu disebut “tempat pengampunan” (Keluaran 25:17), dan di atasnya terpancar kemuliaan Tuhan yang bersinar, atau Shekinah (yang secara harfiah berarti “tempat tinggal”), memancar di antara dua kerub penutup, atau malaikat, di kedua ujung tabut. Ini adalah simbol takhta Allah dan kehadiran Yang Mahakuasa di surga. Dinding ruang maha kudus diukir dengan banyak malaikat, melambangkan awan malaikat hidup yang mengelilingi pribadi Allah di surga (1 Raja-raja 6:29).
Bagaimana Semuanya Bekerja
Bait Suci menunjukkan bagaimana Allah menangani dosa. Dosa tidak dapat diabaikan. Upahnya adalah maut (Roma 6:23). Hukum tidak dapat diubah untuk membebaskan orang berdosa dari kesalahan. Upah dosa harus dibayar, baik oleh orang berdosa dengan menerima maut kekal, maupun oleh Kristus di kayu salib. Mari kita ikuti sebuah dosa saat diakui, lalu diproses melalui Bait Suci.
Pelayanan di Halaman
Ketika seorang pendosa disadarkan akan dosanya oleh Roh Kudus dan ingin mengakuinya, ia datang ke pintu halaman dengan seekor hewan yang tak bercela (biasanya seekor domba) untuk dikorbankan. Ia meletakkan tangannya di atas kepala korban yang tak bersalah itu dan mengaku dosanya. Hal ini secara simbolis memindahkan dosanya dan hukuman atasnya ke domba tersebut. Kemudian dengan tangannya sendiri ia harus menyembelih hewan itu dan menumpahkan darahnya. Hal ini dimaksudkan untuk menekankan kepada orang berdosa yang bertobat bahwa dosanya pada akhirnya akan menuntut kematian Anak Domba Allah yang tak bercela.
Inilah bagian yang harus dilakukan oleh orang berdosa dalam ibadah di Bait Suci. Para imam, yang mewakili perantaraan Kristus antara orang berdosa yang bersalah dan Allah-Nya, melakukan sisanya.
Setelah mengaku dosanya dan menyembelih domba, orang berdosa itu pergi dengan diampuni, dosanya ditutupi oleh darah korban yang tumpah. Tentu saja darah domba itu tidak menutupi dosa, tetapi mewakili darah Kristus, “Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).
Setelah sebagian darah ditampung oleh imam, sisanya dituangkan ke tanah di dasar mezbah, dan hewan itu dibakar di atas mezbah. Mezbah melambangkan salib tempat Yesus dikorbankan untuk dosa-dosa dunia. Darah-Nya tumpah ke tanah di kaki salib ketika centurion menusuk sisi-Nya (Yohanes 19:34).
Darah domba, yang secara simbolis menanggung dosa orang berdosa, kemudian diambil oleh imam dan dibawa ke tempat kudus di dalam bait suci. Namun, imam tidak pernah masuk ke dalam bait suci tanpa terlebih dahulu membersihkan diri di bak pembasuhan. Pembasuhan ini melambangkan baptisan dan tercantum sebagai salah satu simbol keselamatan. (Kisah Para Rasul 2:38) Bangsa Israel harus menyeberangi Laut Merah sebelum mereka bebas dari perbudakan Mesir. “Dan mereka semua dibaptis ke dalam Musa di dalam awan dan di dalam laut” (1 Korintus 10:2).
Jadi, di pelataran kita melewati api dan air. Yesus berkata, “Jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5).
Di tempat kudus, asap dupa yang naik dari mezbah melambangkan perantaraan Roh Kudus dalam nama Yesus, sehingga doa-doa pengakuan dosa kita diterima oleh Bapa (Roma 8:26, 27). Setiap hari, darah yang menanggung dosa itu dipercikkan di depan tabir, sehingga memindahkan dosa dari orang berdosa ke Kemah Suci. Di sana, dosa orang-orang berdosa yang bertobat menumpuk sepanjang tahun hingga Hari Pendamaian.
Pelayanan di Ruang Mahakudus
Sekali setahun, pada Hari Pendamaian, imam besar membawa dua ekor kambing jantan yang sempurna, dan undian dilemparkan di atas keduanya untuk menentukan mana yang akan menjadi kambing Tuhan dan mana yang akan menjadi kambing penebus dosa (disebut Azazel dalam bahasa Ibrani). Setelah mengaku dosa-dosanya sendiri dan dosa-dosa keluarganya, imam besar meletakkan tangannya pada kambing Tuhan dan mengaku dosa-dosa seluruh jemaat yang telah terkumpul di tempat kudus sepanjang tahun. Kemudian kambing Tuhan disembelih, dan darahnya dibawa oleh imam besar ke tempat yang paling kudus dan dipersembahkan di hadapan tempat pengampunan tabut, di mana kehadiran Allah berdiam.
Tabut Perjanjian mengandung beberapa simbolisme terindah dan paling bermakna dari rencana keselamatan Allah secara keseluruhan. Di dalam tabut, di antara mangkuk emas berisi manna yang melambangkan pemeliharaan Allah, dan tongkat Harun yang bertunas yang melambangkan otoritas dan disiplin Allah, terdapat dua lempeng batu di mana jari Allah menuliskan hukum yang telah dilanggar oleh semua manusia (Roma 3:23). Pelanggaran terhadap hukum itu adalah dosa (1 Yohanes 3:4) dan hukuman atas dosa adalah maut (Roma 6:23).
Di antara hukum yang menghukum kita dengan kematian dan kehadiran Allah yang menghanguskan, terdapat tempat rahmat, atau tutup tabut. Susunan ini menggambarkan bahwa hanya rahmat Yesus yang menyelamatkan kita dari dihancurkan oleh kehadiran dan keadilan Allah yang membakar. Namun, rahmat Yesus tidak murah. Ia membelinya dengan darah-Nya sendiri. Ia membayar upah dosa agar dapat menawarkan rahmat kepada semua yang menerimanya.
Selanjutnya, mewakili Kristus sebagai Perantara, imam besar memindahkan dosa-dosa yang telah mencemari tempat kudus ke kambing jantan yang masih hidup, Azazel, yang kemudian dibawa menjauh dari perkemahan orang Israel. Hal ini secara simbolis menghapus dosa-dosa umat dan mempersiapkan tempat kudus untuk tahun pelayanan berikutnya. Dengan demikian, segala sesuatu kembali beres antara Allah dan umat-Nya.
Pandangan Luas tentang Keselamatan
Rencana keselamatan adalah tema dari seluruh Alkitab. Keselamatan anak-anak Israel dari Mesir mengikuti rencana ini dengan tepat. Mesir melambangkan pelataran tempat pembenaran terjadi. Allah mengorbankan semua anak sulung Mesir, mewakili mereka yang akan menebus dosa mereka sendiri. Namun, orang Israel diizinkan menggantikan darah Anak Domba Paskah untuk anak sulung mereka, mewakili mereka yang menerima penebusan Yesus. Setelah pengorbanan, datanglah pembersihan. Semua anak Israel “dibaptis” di Laut Merah (1 Korintus 10:1, 2), yang disimbolkan oleh bak pembasuhan.
Kemajuan harian dalam pembentukan karakter ini adalah proses pengudusan. Namun, apa hasil akhir dari pengudusan? Pada akhirnya, kita sampai pada titik di mana kita lebih memilih mati daripada menghina Penyelamat kita dengan berbuat dosa. Itulah saat perjanjian baru terpenuhi dalam diri kita. “Tetapi inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan kaum Israel: Sesudah hari-hari itu, firman Tuhan, Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya di dalam pikiran mereka; dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yeremia 31:33). Ketika hukum Allah menjadi kesukaan dan kegembiraan kita dan dosa tidak lagi berkuasa atas kita, maka proses pengudusan telah selesai.
Penebusan
Selama sepuluh hari menjelang Hari Pendamaian, anak-anak Israel harus membersihkan perkemahan, rumah, tubuh, dan dosa mereka dengan mengaku setiap kesalahan yang diketahui. Setelah imam besar menjalani ritual pembersihan bait suci, Allah memiliki bait suci yang bersih dan umat yang bersih.
Sekarang, saat penebusan yang sesungguhnya berlangsung di surga, umat Allah harus disucikan kembali. Untuk menyelesaikan penyucian Bait Suci dan membawa umat-Nya ke surga, Kristus tidak boleh lagi menerima pengakuan dosa. Orang-orang jahat akan terus berbuat dosa, tetapi mereka akan menanggung dosa mereka sendiri dan membayar upah dosa dalam penghakiman.
Sebaliknya, orang-orang benar akan memperoleh kemenangan atas dosa melalui darah Yesus Kristus. Hal ini terjadi ketika mereka semua mengalami perjanjian baru, yang mengambil hukum dari lempengan batu dan menjadikannya bagian integral dari hati mereka. Pada saat itu, Kristus dapat menyelesaikan penyucian bait suci-Nya di surga dan datang menjemput mempelai-Nya karena bait suci-Nya di bumi—umat-Nya—juga telah disucikan. Ia akan memiliki bait suci yang suci di surga dan bait suci yang suci di bumi. Bukankah Yesus berkata bahwa kita adalah bait-Nya (Efesus 2:19-21; 1 Korintus 3:16)?
Yesus Adalah Bait Suci
Studi ini bisa berlanjut ratusan halaman, tetapi pada akhirnya tema sentral dari seluruh sistem bait suci adalah Yesus. Yesus adalah pintu, domba yang tak bercela, dan Imam Besar kita. Ia adalah terang dunia dan roti hidup. Ia adalah air hidup di bak pembasuhan dan batu di mana tertulis hukum Allah di dalam tabut. Kasih-Nya adalah emas yang berkilau di seluruh tempat kudus. Adalah darah-Nya yang memungkinkan kita mendekati Bapa. Sesungguhnya, Yesus adalah esensi dari bait suci, sebab Ia berkata, “Runtuhkanlah bait suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunkannya kembali. … Tetapi Ia berbicara tentang bait suci tubuh-Nya” (Yohanes 2:19, 21).
Apakah Anda telah menjadikan Kristus sebagai tempat suci Anda? Kitab Suci berjanji: “Lihatlah, seorang Raja akan memerintah dengan keadilan, dan para pangeran akan memerintah dengan kebenaran. Dan seorang manusia akan menjadi tempat berlindung dari angin, dan tempat berlindung dari badai; seperti sungai-sungai air di tempat yang kering, seperti bayangan batu besar di tanah yang letih” (Yesaya 32:1, 2).
“Kita memiliki penghiburan yang kuat, yaitu kita yang telah melarikan diri untuk berlindung dan berpegang pada pengharapan yang telah ditetapkan bagi kita: Pengharapan itu kita miliki sebagai jangkar bagi jiwa, yang pasti dan kokoh, dan yang masuk ke dalam tempat di balik tabir” (Ibrani 6:18, 19).
“Marilah kita dengan berani datang ke hadapan takhta kasih karunia, supaya kita memperoleh belas kasihan dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (Ibrani 4:16).
\n